Senin, 13 Februari 2012

TUAS MEDIA KERTAK HANYAR TERBITKAN NOVEL TAJUDDIN NOOR GANIE BERJUDUL TEGAKNYA MASJID KAMI

Mahmud Jauhari Ali (MJA), pemilik Tuas Media Kertak Hanyar mengatakan bahwa pihaknya sejak 13 Februari 2012 ybl mulai menyebar-luaskan novel karangan Tajuddin Noor Ganie (TNG) berjudul Tegaknya Masjid Kami (TMK).
Novel Tegaknya Masjid Kami (TMK) karangan Tajuddin Noor Ganie (TNG) sebelumnya (2004) sudah dimuat sebagai cerita bersambung di sebuah surat kabar terbitan Banjarmasin pada tahun 2004 yl.
Sambutan pembaca atas pemuatan cerita bersambung TMK ketika itu sangatlah menggembirakan. Tidak hanya itu, para sastrawan Kalsel juga menyambutnya dengan antusias. Pada tanggal 22 Februari 2004, novel TMK dibahas secara khusus dalam sebuah forum diskusi yang sengaja digelar untuk itu.
TMK untuk kali yang pertama diterbitkan oleh Puskjaimastra Kalsel Banjarmasin berkenaan dengan peringatan 483 tahun Kota Banjarmasin (24 September 2010 ybl). Cetakan I TMK telah habis terjual dan telah pula dijadikan sebagai sumber data penulisan skripsi oleh sejumlah mahasiswa PBSID STKIP PGRI Banjarmasin.
“Kami tertarik menerbitkannya kembali karena TMK menurut kami merupakan novel yang sangat mengesankan. Isinya bercerita tentang historiografi masjid Sultan Suriansyah yang terletak di bilangan Jalan Pangeran, Kuin Utara, Banjarmasin,” ujar Mahmud Jauhari Ali dalam release yang dikrimkannya ke koran ini.
TMK bercerita tentang perjuangan Sultan Suriansyah ketika mendirikan Kerajaan Banjar pada tahun 1520-1526. Kerajaan Banjar baru bisa didirikan setelah Sultan Suriansyah berhasil tampil sebagai pemenang dalam perang saudara melawan pamannya Pangeran Temenggung yang ketika itu menjadi rajan secara tidak sah di Kerajaan Negara Daha.
Kerajaan Banjar adalah kerajaan pertama di Pulau Kalimantan yang menjadikan ajaran Islam sebagai ideologi negara menggantikan ajaran nenek moyang yang selama ini menjadi ideologi Kerajaan Negara Daha.
Masjid merupakan simbol yang paling utama dari sebuah kerajaan Islam. Namun, meskipun berstatus sebagai raja yang berkuasa penuh di seantero wilayah kerajaannya, Sultan Suriansyah harus berjuang keras untuk mendirikan masjid pertama di kota Banjarmasin.
Tantangan tidak hanya datang dari para pihak yang selama ini menjadi musuh laten negaranya, tetapi juga datang dari lingkaran dalam istana (ring 1). Persoalan menjadi sangat serius karena para pihak yang menentangnya kali ini adalah para petinggi militer Kerajaan Banjar yang masih tetap kukuh menganut agama nenek moyang mereka.
Intrik-intrik politik tingkat tinggi inilah yang antara lain diceritakan oleh TNG dalam TMK. Cerita lain yang juga mendominasi adalah cerita tentang kesulitan-kesulitan yang dialami oleh para peserta sayembara pencarian 4 batang tiang ulin untuk sokoguru masjid. Setiap peserta diceritakan mengalami peristiwa dahsyad di tempat-tempat di mana mereka menebang pohon ulin dimaksud.

1 komentar:

  1. Novel dimaksud dijual untuk umum. Para peminat dipersilahkan untuk menuliskan pesannya di blog ini.

    BalasHapus