Senin, 18 Juni 2012


MEMANFAATKAN KARYA SASTRA
SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh Tajuddin Noor Ganie, M. Pd

Hingga saat ini pendidikan masih diyakini sebagai sarana yang mumpuni untuk membangun kepribadian dan kecerdasan anak bangsa di tanah air kita. Segala sesuatu yang bersentuhan dengan kepentingan pendidikan anak bangsa ini senantiasa dicermati, dibangun, dan dikembangkan dengan tujuan agar dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkarakter prima sekaligus juga cerdas secara intelektual.
Pada kurun waktu 5 tahun terakhir ini muncul gagasan untuk lebih menggalakkan lagi pendidikan karakter di semua tingkatan pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga tingkat perguruan tinggi (sarjana strata 1). Gagasan ini mencuat ke permukaan dengan begitu kuatnya karena dipicu oleh kekhawatiran banyak pihak yang melihat bahwa proses pendidikan formal yang berlangsung di semua tingkatan persekolahan dan perguruan tinggi di tanah air kita selama ini pada umumnya cuma melahirkan anak bangsa yang cerdas secara intelektual saja, tetapi tidak bermental tangguh, dan berperilaku tidak sesuai dengan tujuan pendidikan yang mulia.
Perilaku yang tidak sesuai dengan tujuan mulia pendidikan itu antara lain tergambar dari semakin banyaknya pelaku korupsi di tanah air kita yang jika ditelisik dengan seksama tidak lain adalah para pejabat aparatur negara yang berlatar belakang pendidikan tinggi alumni PTN/PTS ternama di tanah air kita. Fakta ini baru saja diungkapkan dengan telak oleh Bapak Marzuki Ali Ketua DPRRI. Para pihak yang merasa terusik dengan tudingan keras itu langsung bereaksi dengan keras pula.
Tindakan anarkis yang kerap terjadi di jalan-jalan di berbagai kota besar, kota sedang, kota kecil, atau bahkan di kota-kota sangat kecil di pelosok-pelosok negeri, seperti tawuran pelajar atau demonstrasi yang pada mulanya berlangsung damai kemudian berubah menjadi kerusuhan social berbau SARA, yang semakin kerap terjadi, merupakan petunjuk nyata bahwa ada yang tidak beres dengan karakter anak bangsa di tanah air kita.
Situasinya menjadi semakin runyam, karena aparatur negara yang bertugas memelihara stabilitas keamanan di tanah air kita cenderung menyederhanakan persoalan yang sangat serius ini dengan cara berkelit dan dengan entengnya menuding para provokator sebagai biang kerok atau kambing hitamnya. Mereka tidak pernah tertarik untuk mengurai apalagi membabat habis akar permasalahan yang menjadi pemicu latennya, akibatnya kasus anarkis semacam itu selalu berulang dan terus berulang dari rezim ke rezim.
Fakta lain adalah semakin maraknya kasus KTD (kehamilan yang tidak dikehendaki) di tanah air kita. Angka kasusnya tidak tanggung-tanggung, yakni antara 150-200 ribu kasus per tahun. Tendensinya tidak pernah menyusut dari tahun ke tahun, tetapi semakin membengkak. Kasus KTD ini sangat memprihatinkan dan sangat menggiriskan hati karena pelakunya bukanlah pasangan suami/isteri yang gagal ber-KB (keluarga berencana), tetapi adalah pasangan muda-mudi yang sebagian besar di antaranya masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa. Mereka inilah yang tanpa rasa bersalah melakukan hubungan badan di luar nikah, perbuatan asusila ini mereka lakukan karena karakter mental mereka yang lemah.
Fakta-fakta yang memiriskan dan menggiriskan hati ini harus segera dieliminir dengan berbagai cara yang mungkin dilakukan, salah satu di antaranya adalah dengan menggalakkan kembali pendidikan karakter (budi pekerti) terhadap segenap anak bangsa. Konsep pendidikan karakter ini menurut Azeet (2011:12) sesungguhnya sudah ada sejak tahun 2003, dalam hal ini sudah dituangkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (selanjutnya ditulis UU 20/2003 tentang SPN). Disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi sebagai mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan karakter kepada anak didik di sekolah atau kepada para mahasiswa di perguruan tinggi dilakukan melalui bahan ajar atau bahan kuliah yang diresmikan dalam kurikulum. Salah satu bahan ajar atau bahan kuliah dimaksud adalah karya sastra berbentuk puisi, cerpen, novel, dan naskah drama. Potensi karya sastra sebagai sarana pendidikan karakter sudah diketahui sejak lama. Istilah sastra sendiri merujuk kepada fungsinya sebagai sarana pengajaran, yakni sas artinya alat dan tra artinya mengajar, Jadi sastra pada galibnya adalah sarana untuk mengajar manusia.
Berkaitan dengan kepentingan menjalankan fungsinya sebagai actor pendidikan karakter ini maka para sastrawan akan langsung mendapat hujatan public jika di dalam karya sastranya dimuati dengan hal-hal yang tidak senonoh seperti pornografi misalnya. Sehubungan dengan itu kita semua hendaknya mendukung usaha-usaha yang dilakukan oleh pihak sekolah untuk membersihkan perpustakaan sekolah dari bahan bacaan berupa karya sastra yang isinya berpotensi merusak karakter anak bangsa.
Hasil investigasi yang dilakukan oleh para wartawan menunjukkan bahwa dari sekian banyak buku-buku sastra yang dipasok ke perpustakaan sekolah ditemukan adanya buku-buku sastra yang diselipi dengan narasi-narasi atau dialog-dialog yang berkonotasi pornografi. Menghadapi kasus ini pihak pemerintah mengambil jalan mudah, yakni menarik buku-buku sastra bermuatan pornografi dimaksud. Padahal, para pihak yang bertanggung jawab atas lolosnya buku-buku sastra yang tidak senonoh itu ke wilayah dalam sekolah dimaksud mestinya diproses secara hukum, karena mereka telah memboroskan uang negara dalam jumlah milyaran rupiah (dalam bentuk proyek pengadaan buku) untuk menerbitkan buku-buku sastra yang tidak layak pakai. Termasuk dalam kasus ini adalah buku bacaan yang disisipi dengan gambar fisik Nabi Muhammad Saw.
Merujuk kepada UU 20/2003 tentang SPN, maka kualitas pribadi yang akan dibentuk melalui system pendidikan nasional adalah anak bangsa dengan kualitas pribadi sebagai berikut.
  1. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa
  2. Berakhlak mulia
  3. Sehat
  4. Berilmu
  5. Cakap
  6. Kreatif
  7. Mandiri
  8. Demokratis, dan
  9. Bertanggung jawab
Ini berarti karya sastra yang dapat dijadikan sebagai sarana pembentukan karakter anak bangsa adalah karya sastra yang dapat membentuk karakter anak bangsa dengan kualitas pribadi sebagaimana yang dipaparkan di atas.
Pendidikan karakter yang ditanamkan secara tersurat dan tersirat dalam karya sastra meliputi 4 katagori, yakni.
  1. Pendidikan karakter yang berkaitan dengan Tuhan Yang Maha Esa, meliputi (1) berkeyakinan (2) bersikap, (3) berkata-kata, dan (4) berperilaku, sesuai dengan ajaran agama yang dianut
  2. Pendidikan karakter yang berkaitan dengan diri sendiri, meliputi : (1) kejujuran, (2) bertanggung jawab, (3) rasa percaya diri, (4) disiplin, (5) bekerja keras, (6) mandiri, (7) rasa ingin tahu, (8) berjiwa wirausaha, dan (9) bergaya hidup sehat.
  3. Pendidikan karakter yang berkaitan dengan sesama manusia, meliputi (1) membela hak dan memenuhi kewajiban diri sendiri, (2) menghormati hak dan kewajiban orang lain, (3) berguna bagi orang lain, (4) berkata-kata dan berperilaku santun terhadap orang lain, dan (5) patuh dan taat pada aturan social.
  4. Pendidikan karakter yang berkaitan dengan lingkungan meliputi (1) peduli social, (2) peduli lingkungan, (3) menghargai nilai-nilai kebangsaan, dan (4) berpikir nasionalis.
Pertanyaannya sekarang adalah sudah adakah sastrawan Indonesia yang menulis puisi, cerpen, novel, dan naskah drama yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan karakter? Jawabnya : sudah banyak sekali. Salah satu di antaranya adalah Andrea Hirata (AH) dengan tetralogi Laskar Pelangi (LP).
Menurut kesaksian Asrori S. Karni (2008:1-2), novel LP telah menginspirasi banyak orang untuk berderma. Ceritanya, setelah membaca LP, belasan orang pengusaha keturunan Tionghoa yang merantau ke Jakarta tergerak hatinya untuk pulang kampung bersama. Selama ini mereka terlalu asyik menikmati kesuksesan di tanah rantau sehingga sudah puluhan tahun tak pernah pulang kampung ke Belitong.
Mereka pulang kampung bersama dengan cara berkonvoi menaiki sembilan buah mobil yang berjalan beriringan dari Tanjung Pandan (Belitong Barat) ke kampung Gantung (Belitong Timur). Tidak hanya sekadar pulang kampung untuk melampiaskan rindu dendam dengan mengenang nostalgia lama masa kecil dan remaja, tetapi juga datang dengan tujuan untuk menyerahkan derma patungan mereka kepada Lintang. Lintang adalah anggota LP yang paling genius, namun nasibnya paling malang, karena sekolahnya terputus di tengah jalan setelah ayahnya meninggal dunia.
Bagi para pengusaha Tionghoa, LP telah membangkitkan kembali karakter mereka sebagai anak bangsa yang peduli social (termasuk dalam lingkup pendidikan karakter yang berkaitan dengan lingkungan). Sehubungan dengan contoh kasus di atas, LP dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menanamkan pendidikan karakter berakhlak mulia menurut rujukan UU 20/2003 tentang SPN.
Masih menurut kesaksian Asrori S. Karni (2008:2), di Bandung, isakan tangis beberapa kali terdengar dari kamar Nico, mahasiswa pecandu narkoba yang dikenal keras kepala. Orang tuanya penasaran, setelah diintip, Nico ternyata sedang membaca buku Laskar Pelangi. Kepada orang tuanya, Kosasih dan Winarti, Nico mendadak menyatakan tekadnya untuk menyelesaikan rehab ketergantungan obat. Padahal, rehab itu berkali-kali gagal. Sampai orang tuanya putus asa.
Nico juga mau mengerjakan skripsinya, yang sudah setahun ditinggalkan. Laskar Pelangi membangkitkan semangat belajar. “Nico bilang, ia merasa malu pada perjuangan ibu guru di buku itu, dan malu pada Lintang, anak miskin yang terpaksa berhenti sekolah karena ayahnya meninggal dan kekurangan biaya,” tulis Winarti pada program Kick Andy. “Nico menjadi anak baik karena sebuah novel. Novel itu adalah Laskar Pelangi.”
Kasus tobatnya Nico setelah membaca LP merupakan petunjuk bahwa LP telah terbukti dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan karakter bagi anak bangsa. Dalam hal ini sebagai sarana untuk menanamkan semangat untuk kembali hidup sehat (pendidikan karakter yang berkaitan dengan diri sendiri, yakni bergaya hidup sehat) dan kembali mau menuntut ilmu (pendidikan karakter yang juga berkaitan dengan diri sendiri, yakni bekerja keras).
Di Cirebon, guru honorer SD Negeri Pamijahan, bernama Maisaroh, tak peduli lagi besar gaji atau peluangnya diangkat jadi pegawai negeri. Setelah membaca Laskar Pelangi, ia makin bersemangat memotivasi murid-muridnya yang sebagian besar anak buruh pengayam rotan. Soal rezeki, ia serahkan kepada pada keadilan Tuhan. Semangat Maisaroh tercambuk oleh dedikasi Bu Muslimah, yang gaji dan fasilitasnya jauh lebih memprihatinkan, namun bisa memompa semangat muridnya, hingga ada yang mampu meraih gelar master di Eropa. Kebahagian tertinggi Maisaroh ini kini adalah bagaimana muridnya tidak lagi putus sekolah, selepas SD, masih mau melanjutkan ke jenjang SMP (Karni, 2008:2-3).
Bagi Maisaroh, LP telah membangkitkan karakternya sebagai guru yang berakhlak mulia dan berguna bagi orang lain. Maisaroh bersedia hidup pas-pasan dengan gaji yang kecil demi menjaga semangat anak didiknya agar tetap mau sekolah meskipun hidup berada di bawah tekanan kemiskinan yang begitu ekstrim menderanya (pendidikan karakter yang berkaitan dengan Tuhan Yang Maha Esa, yakni bekeyakinan sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya, dan pendidikan karakter yang berkaitan dengan sesama manusia, yakni berguna bagi orang lain).
Sementara itu, di tempat lain, sejumlah pemuda yang selalu resah mengutuk nasib tiba-tiba mendapat kekuatan batin baru untuk bangkit dari mental cengeng. Kalangan marginal, yang selama ini tidak diperhitungkan, sehingga minder dan inferior, mendapat suntikan kepercayaan diri baru yang menyalak-nyalak. Orang tua jadi punya cara menuturi anak-anaknya. Pasangan muda-mudi jadi punya bahasa untuk mengungkapkan cinta. Bahkan, gubernur, bupati, walikota, jadi punya inovasi baru untuk memompa stamina warga yang lesu. Itulah situasi yang oleh sejumlah orang dinamakan fenomena Laskar Pelangi. Tetralogi karya Andrea Hirata ini telah mengalami multi level marketing spirit. Semangat pantang menyerah telah bergulir efektif dari mulut ke mulut. Tengah terjadi interaksi diam-diam membentuk etos public yang kuat (Karni, 2008:7-8).
Fakta yang dipaparkan di atas menunjukkan bahwa LP telah menjadi pemicu terbentuknya kembali karakter mental mandiri yang selama ini hilang entah ke mana di dalam rimba psikologis mereka (pendidikan karakter yang berkaitan dengan diri sendiri, yakni mandiri dan percaya diri.
Mira Lesmana (dalam Karni, 2008:155-156) memberi kesaksian bahwa “Laskar Pelangi adalah potret genuine orang Indonesia yang pantang menyerah. Laskar Pelangi adalah cerita tentang kaum underdog, orang yang tidak dipertimbangkan, mereka yang hidupnya dikotak-kotakkan, dan dianggap tidak mampu. Tapi, spirit mereka luar biasa membuat kita merindukan kembali orang Indonesia. Inilah orang Indonesia. Spirit bangsa ini harus dibangun kembali.”
Bagi Mira Lesmana, karakter tahan banting, ulet, pantang menyerah, dan penuh semangat itulah sifat asli orang Indonesia, yang diwariskan nenek moyang nusantara. “Itulah orang Indonesia yang sesungguhnya. Tidak gampang menyerah, walaupun dikotak-kotakkan oleh nasib, tapi maju terus,” katanya dalam diskusi buku di Istora Senayan Jakarta, awal Juli 2008 (Karni, 2008:156-157).
Mengikuti pandangan Mira Lesmana di atas, LP merupakan karya sastra yang tak pelak lagi memenuhi criteria sebagai karya sastra yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan karakter bagi segenap anak bangsa di segala tingkatan. Dalam hal ini dapat dimanfaatkan untuk memupuk sikap mental yang unggul yakni pantang menyerah menghadapi situasi social yang tidak menguntungkan (tidak kondusif atau tanpa posisi tawar yang memadai). Pendidikan karakter ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang mulia, yakni menanamkan sikap mandiri (pendidikan karakter yang berkaitan dengan diri sendiri, yakni rasa percaya diri, nekerja keras, dan mandiri).
Selanjutnya, Karni (2008:157) menuliskan bahwa di antara sumbangan fenomenal tetralogi LP adalah membangkitkan passion bangsa ini yang original, yang masih hidup sebagai pegangan dalam masyarakat pedalaman, termasuk di Belitong Timur tahun 1970-an, yang masih alami, belum banyak ternoda anasir buruk luar.
Fighting spirit adalah salah satu inspirasi (pendidikan karakter, TNG) yang diangkat sebagai tema dalam novel Laskar Pelangi. Spirit untuk survive yang bergelora di kalangan anak-anak underdog, anak-anak yang tidak diperhitungkan (Karni, 2008:180). Inti pendidikan menurut Andrea Hirata, bukan sekadar kemudahan sarana pendukung, tetapi juga tercapainya pembentukan karakter (Karni, 2008:196).
LP merupakan contoh karya sastra yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan karakter segenap anak bangsa di berbagai tingkatan. Melalui LP, Andrea Hirata mengajarkan kepada segenap anak bangsa bahwa kita harus bijak menyikapi stereo tipe yang buruk. Kita tidak boleh menerima begitu saja kesan umum negative tentang diri dan komunitas kita yang dilekatkan bertahun-tahun entah oleh siapa. Kita tidak boleh pasrah dan larut dalam arus utama yang tidak kontruktif. Semua itu bisa diubah jadi lebih baik, asal ada kemauan yang kuat (Karni, 2008:173).
Senafas dengan itu, dalam kaitannya dengan usaha kita bersama untuk menggalakkan kembali pendidikan karakter segenap anak bangsa, kita tidak boleh menyerah apalagi putus asa. Usaha yang kita lakukan sekarang ini insya Allah akan dituai hasilnya pada 10-20 tahun yang akan datang. Jika kita tidak berbuat apa-apa sekarang ini, maka dapat dipastikan karakter segenap anak bangsa kita akan tetap bobrok, dan butuh waktu lama untuk merehabilitasinya.

BAHAN RUJUKAN
Azzet, Akhmad Muhaimin, 2011. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia. Jogjakarta : Penerbit Ar Ruzz Media.
Karni, Asrori S.2008. Laskar Pelangi : The Phenomenon. Jakarta : Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika)



























2 komentar:

  1. Tulisan ini berasal dari makalah untuk Seminar Sastra di Kampus Uniska, Sabtu, 16 Juni 2012
    Siapa saja, jika berminat boleh dimuat ulang ke dalam surat kabar, majalah, buletin, atau blog. Syaratnya cuma meminta izin di Pos Komentar ini.

    BalasHapus
  2. pak terimakasih sudah jadi referensi tugas essay saya

    BalasHapus