Kamis, 10 Januari 2013

KAJIAN STRATA NORMA PUISI REZQIE MUHAMMAD AL FAJAR BERJUDUL NYANYIAN BUMI PAIKATN



KAJIAN STRATA NORMA

PUISI REZQIE MUHAMMAD AL FAJAR

 BERJUDUL NYANYIAN BUMI PAIKAT

 

Oleh Tajuddin Noor Ganie, M. Pd

 

Rezqie Muhammad Al Fajar (RMAF), mahasiswa PGSD FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Lahir di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel, 5 Juni 1994. Ia merupakan pendatang baru di jagat sastra Indonesia di Kalsel. Publikasi puisinya antara lain di SKH Banjarmasin Post dan SKH Media Kalimantan. Selain menulis puisi ia juga aktif sebagai pembaca puisi berprestasi. Posisi kesastrawanannya menjadi semakin mantap saja ketika ia baru-baru ini berhasil mengukir prestasi sebagai Pemenang III katagori peserta umum dalam Lomba Menulis Puisi Aruh Sastra Kalsel IX Banjarmasin 2012 (www.wisata banjarmasin.com, Sabtu, 25 Agustus 2012).
Pada kesempatan ini penulis mengulas puisi RMAF berrjudul Nyanyian Bumi Paikat (selanjutnya ditulis NBP). Dengan puisi inilah ia berhasil mengukir prestasinya sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Ulasan dilakukan dengan pendekatan strata norma menurut teori Roman Ingarden.   
Berikut penulis kutipkan puisi dimaksud.






NYANYIAN BUMI PAIKAT
(Sajak rindu untuk benuaku
dalam tangisan anak bukit)

sebagaimana mayang dan kambat ditarikan
lumut pergi tak berbekas di luruhan daun purun
melupakan balai tempat menganyam lampit masa lalu

betapa miris merasakan hamparan sasirangan terbakar
dari muara lanting melepas jukung ke hulu sungai

di setiap garis petuah sungai Martapura ke Lok Baintan
mengayun kayuh menuju pasar terapung dengan seikat harap
turis-turis merekam jejak saka dan konser balian
sedangkan irama japin dan kanjar tak terdengar lagi
mengiringi baksa kambang dan radap rahayu

di mana tempat penziarahan anak cucu nanti
bila kita tak tahu bau asap kemenyannya
ke mana kita menanam tonggak kayu ulin
bila kita tak tahu tanah kubur datu kita
bagaimana kita bisa mengenal riwayat ladang kita
bila kita tak tahu wajah para penatah banua

indah nian nyanyian bumi paikat bergelantungan di langit seribu sungai
deretan duri membalur pada hutan purba
pada ombak yang diam
semasa kita bapukung dalam belai kasih kuitan

kau babat hutan tanpa sadar bertopeng imitasi
dan berkhianat pada nisan leluhur
celakalah pencuri jantung bumi paikat
membiarkan teriakan anak bukit menyahan kindai dunia
sebelum mentari tenggelam dalam pakucuran kedurhakaan
berhentilah memburu manis kesturi di biduk rampa
pada semua kenyataan yang sudah dimengerti

aku merindu nyanyian bumi paikat di belantara huma banuaku

Banjarmasin, 27 Juli 2012

Lapis Bunyi
Lapis bunyi merujuk kepada hasil olah kata yang dilakukan penyair. Lajimnya kosa-kata yang dipilih untuk menghasilkan lapis bunyi adalah kosa-kata yang sesuai dengan pola persajakan yang sudah ada dalam tradisi penulisan puisi modern di tanah air kita, yakni a/a/a/a, a/a/b/b, a/b/a/b, dan a/b/b/a.
Namun, lapis bunyi dalam puisi NBP tidak diolah RMAF dengan cara seperti itu. Lapis bunyi dalam puisinya ini diolahnya dengan cara meletakkan kosa-kata dengan huruf awal yang sama atau huruf akhir yang sama pada baris yang sama. Lapis bunyi yang dihasilkan dengan cara seperti ini lajim disebut aliterasi.
Aliterasi adalah (1) ulangan bunyi konsonan yang terdapat pada awal kata untuk mencapai efek keindahan bunyi. Istilah lain rima konsonan, purwakati, runtun konsonan, contoh bukan beta bijak berperi dalam puisi Rustam Effendi (Zaidan dkk, 1994:26, dan Hasanuddin WS dkk, 2004:42), dan (2) ulangan bunyi vocal atau konsonan di awal kata, di tengah kata, atau di akhir kata, baik yang berurutan maupun yang berselang-seling pada baris puisi yang sama (vertical) (Ganie, 2012).
Berkut ini adalah lapis bunyi aliterasi yang ditemukan dalam puisi RMAF berjudul NBP (1) lumut pergi tak berbekas di luruhan daun purun, (2) betapa miris merasakan hamparan sasirangan terbakar, (3) sedangkan irama japin dan kanjar.tak terdengar lagi, (4) bila kita tak tahu bau asap kemenyannya, (5) ke mana kita menanam tonggak kayu ulin, (6) bila kita tak tahu tanah kubur datu kita, (7) bagaimana kita bisa mengenal riwayat ladang kita, (8) bila kita tak tahu wajah para penatah banua.
Selanjutnya, (9) indah nian nyanyian bumi paikat bergelantungan di langit seribu sungai, (10) deretan duri membalur pada hutan purba/pada ombak yang diam, (11) semasa kita bapukung dalam belai kasih kuitan, (12) membiarkan teriakan anak bukit menyahan kindai dunia, (13) sebelum mentari tenggelam dalam pakucuran kedurhakaan, (14) berhentilah memburu manis kesturi di biduk rampa, (15) pada semua kenyataan yang sudah dimengerti, dan (16) aku merindu bumi paikat di belantara huma banuaku.
Keberadaan lapis bunyi aliterasi sebanyak 16 buah itu menjadikan puisi NBP ini menjadi puisi yang ritmis dan melodius ketika dibacakan di depan public.  

Lapis Arti
 Lapis arti merujuk kepada satuan arti yang terbentuk baik karena susunan teks visual kata-katanya (tipografi), maupun karena pilihan kata-katanya (diksi), Tipografi puisi NBP  terdiri dari 6 bait. Bait I-II : 5 baris (Kuin), Bait III : 6 baris (Sektet), bait IV : 11 baris, dan Bait V : 1 baris.
Pilihan kata (diksi) identik dengan struktur formal linguistik puisi (Semi, 1993:121). Setiap kata mempunyai makna leksikal (makna kamus) yang melekat semula jadi padanya. Makna leksikal yang dilekatkan pada setiap kata adalah makna yang disepakati secara arbiter (mana suka) oleh para pemakai bahasa. Kesepakatan itu kemudian dilegal-formalkan dengan cara memasukannya ke dalam kamus yang diakui negara.
Oleh para penyair yang kreatif, kosa kata tunggal yang mandiri itu dimajemukkan dengan cara digabungkan dengan kosa kata tunggal lainnya, atau dengan kosa kata majemuk yang disukainya. Hasil kimiawi akibat penggabungan kosa kata itu adalah terciptanya makna kata yang baru sebagai pengganti makna kata yang lama. Makna baru dimaksud ada yang disebut makna muatan dan ada pula yang disebut makna ikutan.
Makna muatan identik dengan makna eksplisit (langsung dapat dimengerti tanpa penafsiran sama sekali). Gabungan kata dengan makna eksplisit ini disebut sebagai deretan kata nyata. Sedangkan makna ikutan identik dengan makna implicit (tidak langsung dapat dimengerti maknanya, sehingga pemaknaan terhadapnya harus dilakukan melalui penafsiran subjektif yang beragam, tergantung kompetensi orang yang menafsirkannnya). Gabungan kata dengan makna implicit ini dapat dibedakan menjadi 2, yakni kata-kata berkonotasi citraan (citra gerak, citra penciuman, citra pendengaran, citra penglihatan, citra pencecapan, dan citra perabanan) dan kata-kata berkonotasi kiasan (gaya bahasa perbandingan, pertentangan, dan pertautan).
Lapis arti puisi NBP di atas dijalin penyairnya (RMAF) dengan memanfaatkan kosa kata bahasa Indonesia dan bahasa Banjar yang bersifat denotatis dan konotatis sesuai dengan kepentingan pemaknaan yang diinginkannya (makna muatan dan makna ikutan). Paparan lapis arti yang diciptakan penyair dengan memanfaatkan sarana bahasa Indonesia dibatasi pada paduan kata yang berkonotasi implicit saja. Sementara untuk lapis arti yang diciptakan penyair dengan memanfaatkan bahasa Banjar akan dijelaskan semuanya, baik menyangkut arti katanya yang eksplisit, maupun arti katanya yang implicit.
Paduan kata yang perlu dipaparkan lapis artinya dalam puisi NBP ini ada 11 buah, yakni (1) tempat penziarahan anak cucu, (2) bau asap kemenyannya, (3) tanah kubur datu kita, (4) riwayat ladang kita, (5) deretan duri membalur pada hutan purba, (6) ombak yang diam, (7) bertopeng imitasi, (8) nisan leluhur, (9) pencuri jantung, (10) mentari tenggelam, dan (11) manis kesturi. 
(1)   Penziarahan anak cucu, tempat yang biasa dikunjungi oleh anak-anak suku Dayak Meratus (penyair menggunakan istilah Bukit, penulis sengaja menggantinya dengan istilah Dayak Meratus karena istilah ini lebih disukai mereka, pen) biasanya berupa makam leluhur, balai adat, rumah pusaka tempat berkumpul pada hari-hari besar tertentu, dan bisa pula berupa kampung halaman. Difungsikan sebagai tempat untuk mengenang kembali jasa-jasa baik para leluhur yang menjadi cikal-bakal mereka. Tempat penziarahan semacam ini berkaitan dengan identitas asal-usul genetic suku bangsa.    
(2)   Bau asap kemenyan, merujuk kepada identitas yang berkaitan dengan asal-usul genetic suku Dayak Meratus yang bersifat mistis.
(3)   Tanah kubur datu kita, merujuk kepada tempat yang dihormati, tempat yang setiap tahunnya harus diziarahi sebagai bukti penghormatan kepada roh nenek moyang, yakni para leluhur yang menjadi cikal-bakal mereka sebagai suku Dayak Meratus. Tanah kubur dalam konteks puisi ini merupakan salah satu identitas yang berkaitan asal-usul genetic suku Dayak Meratus .
(4)   Riwayat ladang kita, merujuk kepada identitas asal-usul atau hak domestic yang berkaitan dengan kampung halaman suku Dayak Meratus. Ladang kita merupakan salah satu identitas yang berkaitan dengan asal-usul kampung halaman suku Dayak Meratus.
(5)   Deretan duri membalur pada hutan purba, merujuk kepada lingkungan alam domestic suku Dayak Meratus yang masih asri di masa lalu, yakni ketika hutan-hutan masih lebat dan masih penuh dengan onak dan duri karena memang belum banyak dirambah orang.
(6)   Ombak yang diam, merujuk kepada suasana kampung halaman suku Dayak Meratus yang aman tenteram jauh dari ancaman mara bahaya.
(7)   Bertopeng imitasi, merujuk kepada tokoh antogonis yang tidak disukai orang, yakni orang-orang munafik yang bermuka dua, atau orang-orang yang bertabiat pengkhianat.
(8)   Nisan leluhur, merujuk kepada tempat yang dihormati, tempat yang setiap tahun harus diziarahi sebagai bukti penghormatan kepada roh para leluhur yang menjadi cikal-bakal mereka sebagai suku bangsa. Nisan leluhur merupakan salah satu identitas suku Dayak Meratus yang berkaitan dengan asal-usul genetic mereka.
(9)   Pencuri jantung, merujuk kepada penjahat yang sangat berbahaya, dalam konteks puisi ini adalah para pelaku pembabatan hutan secara liar (illegal logging).
(10)  Mentari tenggelam, merujuk kepada batas waktu yang ditolerenasi. Pelanggaran terhadap batas waktu yang ditolerensi ini mengandung risiko akan dijatuhi hukuman sesuai dengan tingkat kesalahannya.
(11)  Manis kesturi, merujuk kepada segala sesuatu yang membuat orang lain yang sebenarnya tidak berhak menjadi tergiur untuk ikut mengambil bagian yang bukan haknya.
Khusus untuk kosa-kata bahasa Banjar yang dimanfaatkan dalam puisi ini ada sebanyak 25 buah kata, yakni.
(1) Paikat = rotan, symbol kekayaaan alam yang terdapat di dalam hutan yang dimiliki secara kolektif sebagai tanah ulayat oleh suku Dayak Meratus di Kalsel
(2) Kambat sejenis tanaman daun yang biasanya terdapat atau ditanam di sekitar pemakaman atau di atas pekuburan, biasa digunakan sebagai pelengkap upacara adat dalam tradisi ritual di kalangan  suku Dayak Meratus, seperti upacara adat bamandi-mandi. Sama halnya dengan paikat, kambat juga merupakan symbol kekayaan alam yang terdapat di dalam hutan yang tumbuh di tanah ulayat milik bersama suku Dayak Meratus
(3) Purun, sejenis rumput yang hidup di padang rawa-rawa, bahan utama untuk membuat barang-barang kerajinan tangan, seperti bakul atau tikar. Sama halnya dengan paikat, purun juga merupakan symbol kekayaan alam yang terdapat di dalam hutan yang tumbuh di tanah ulayat milik bersama suku Dayak Meratus. Tidak hanya itu keterampilan menganyam purun menjadi bakul atau tikar merupakan salah satu bukti pencapaian prestasi suku Dayak Meratus dan suku Banjar di bidang produksi komoditas kerajinan tangan.
(4) Balai, rumah adat, biasanya digunakan sebagai tempat menggelar musyawarah adat oleh suku Dayak Meratus. Balai merupakan salah satu kearifan budaya local suku Dayak Meratus. Selain sebagai tempat musyarawarah adat, balai juga difungsikan sebagai tempat untuk membina karakter anak-anak suku Dayak Meratus. Di tempat inilah karakter mereka digembleng secara dini sebelum memasuki usia remaja.  
(5)   Lampit, tikar yang dibuat dari bilah-bilah rotan yang dianyam jadi satu, merupakan salah satu bukti pencapaian prestasi suku Dayak Meratus dan suku Banjar di bidang produksi komoditas kerajinan tangan.  
(6)   Sasirangan, nama sejenis kain khas hasil karya kerajinan tangan orang Banjar di Kalsel, salah satu bukti pencapaian prestasi suku Banjar di bidang produksi komoditas kerajinan tangan.
(7)   Lanting = rakit bambu, sarana transportasi air yang multiguna di kalangan suku Dayak Meratus, dibuat dari puluhan batang bambu yang dirakit jadi satu dengan tali rotan. Digunakan sebagai sarana transpotasi air untuk mengarungi sungai Amandit dari Loksado menuju ke kota Kandangan. Sesampainya di kota Kandangan rakit bambu itu dijual kepada para penadahnya, uang hasil penjulannya digunakan untuk membeli segala keperluan hidup. Termasuk salah satu kearifan budaya budaya local yang menunjukkan bukti pencapaian prestasi suku Dayak Meratus.    
(8)    Jukung = perahu yang dibuat dari kayu gelondongan yang digali (bahasa Banjar ditabuk), atau dibuat dari kayu kepingan yang dirakit dengan teknik-teknik pertukangan. Jukung digunakan sebagai sarana transportasi sungai, termasuk salah satu kearifan budaya local yang berkaitan dengan pencapaian prestasi suku Banjar di bidang produksi komoditas hasil kerja pertukangan. 
(9)   Lok Baintan = nama tempat di Kabupaten Banjar, Kalsel, terkenal sebagai salah satu lokasi pasar terapung yang alami dan banyak dikunjungi oleh turis local, luar daerah Kalsel, dan mancanegara
(10)     Saka = anak sungai, kanal air, terusan. Salah satu kearifan budaya local suku Banjar di bidang tata kelola air sawah dan system lalu lintas di persungaian.
(11)     Balian, orang yang bertindak selalu pemimpin upacara adat di kalangan orang Dayak Meratus di Kalsel. Salah satu kearifan budaya local yang berkaitan dengan system religi asli orang Dayak Meratus di Kalsel.
(12)     Japin, nama tarian orang Banjar untuk keperluan hiburan. salah satu identitas suku Banjar di bidang seni budaya
(13)      Kanjar, nama tarian sacral orang Dayak Meratus yang ditarikan pada setiap upacara adat. Salah satu identitas suku Dayak Meratus di bidang religi dan seni budaya.
(14)     Baksa kambang, nama tarian orang Banjar yang ditarikan pada saat menerima tamu terhormat, salah satu identitas suku Banjar di bidang seni budaya.
(15)     Radap rahayu, nama tarian orang Banjar yang ditarikan pada saat menerima tamu terhormat. Salah satu identitas suku Banjar di bidang seni budaya,
(16)     Kayu ulin = kayu besi, salah satu jenis kayu endemic yang terkenal kuat dan tahan lama. Biasanya diolah menjadi balok berbagai ukuran, dan atap sirap.   
(17)     Datu = nenek moyang, para leluhur yang dihormati sebagai cikal bakal keberadaan suku Banjar dan Dayak Meratus di Kalsel.
(18)     Penatah banua, para pendiri tempat pemukiman, semacam founding father.
(19)  Bapukung, cara orang Banjar menidurkan anak berusia bawah lima tahun dengan cara mendudukannya di dalam ayunan yang diikat di bagian bawah dagunya,
(20)  Kuitan = orang tua, (21) Manyahan = memanggul, (22) Kindai = lumbung padi, (23) Pakucuran,  sejenis bejana, tempat untuk menampung kucuran air bekas menginang. (24) Rampa = rumah kecil di tengah belukar atau sawah, dan (25) Banuaku = kampung halamanku.
Keberadaan kosa-kata bahasa Banjar sebanyak 25 buah itu menjadikan para pembaca yang tidak fasih berbahasa Banjar akan mengalami kesulitan, minimal mengalami ketersendatan, dalam memahami makna muatan dan makna ikutan puisi NBP ini.
Namun, pemakaian kosa-kata bahasa Banjar dimaksud tampaknya sulit dihindari oleh penyairnya (RMAF). Hal ini berkaitan dengan warna local Banjar yang ingin dibangunnya. Warna local Banjar yang kental termasuk salah satu keistimewaan puisi ini. Tapi bisa juga merupakan faktor yang melemahkan dalam konteks membangun komunikasi dengan para pembaca yang berasal dari luar lingkungan komunitas orang Banjar (atau luar Kalsel).

Lapis Satuan Arti
Lapis satuan arti merujuk kepada tema puisi (sense) dan amanat puisi (intension). Istilah tema berasal dari bahasa Latin yang berarti tempat meletakkan suatu perangkat. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari penciptaan suatu karya sastra (Aminuddin, 1995:91).
Tema merujuk kepada arti atau pokok pikiran yang dikandung dalam puisi. Amanat merujuk kepada tujuan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca melalui puisinya. Setiap puisi sudah pasti mengandung tema sebagai pokok persoalan (subject matter) yang diungkapkan penyairnya. Setiap puisi pasti diciptakan dengan amanat tertentu karena tidak ada penyair yang menulis puisi tanpa tujuan sama sekali (Situmorang, 1983:12, 16).
Tapi, tidak semua puisi dapat diketahui tema dan amanatnya dengan mudah, karena tidak semua penyair mau mengungkapkannya dengan gamblang. Bahkan, para penyair pada umumnya bersengaja menyembunyikan tema dan amanat puisinya di balik kosa-kata yang kaya makna (ambiguitas). Tidak jarang tema dan amanat puisi baru diketahui setelah dilakukan penafsiran yang mendalam atas makna muatan dan makna ikutan puisi itu sendiri.
NBP merupakan puisi berjenis eligi, karena didalamnya banyak sekali ditemukan ungkapan-ungkapan yang bernada sedih. Konotasi kesedihan sudah mulai terasa pada subjudulnya, yakni sajak rindu untuk benuaku dalam tangisan anak Bukit.
Menurut Zaidan dkk (1994:67), eligi adalah sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih, rindu, atau murung. Subjeknya bermacam-macam, antara lain kematian, perang, dan cinta. Eligi juga ditulis pada batu nisan sebagai puisi kenangan. Sejak abad ke 16 istilah eligi  mengalami penyempitan makna, yakni hanya merujuk kepada puisi duka untuk seseorang atau ratapan untuk peristiwa-peristiwa tragis. Istilah lain sajak ratap.
Eligi menurut Rani (1996:83 dan 280) adalah sajak duka nestapa. Puisi yang mengandung ratapan atau ungkapan duka cita. Isi sajak ini selalu mengungkapkan sesuatu yang bersifat mendayu-dayu, mengharu biru, dan menyayat hati. Menurut Hasanuddin WS dkk (2007:245), istilah eligi berasal dari bahasa Inggeris elegy dan bahasa Perancis elegie.
Elegi pada awalnya adalah sajak pada zaman klasik di Yunani dan Latin. Biasanya isinya adalah keluhan dan ratapan yang ditujukan kepada seorang kekasih. Dalam sastra Eropa Barat pada umumnya kata elegi dipergunakan bagi setiap syair lirik yang merenungkan mengenai aspek-aspek tragis dalam hidup manusia, bertepatan dengan meninggalnya seorang kekasih atau peristiwa yang menyedihkan. Saat ini istilah elegi digunakan untuk sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih, rindu, atau murung, terutama karena kematian seseorang.    
Berdasarkan paparan di atas, Ganie (2009) berpendapat bahwa puisi berjenis eligi adalah puisi yang berisi ungkapan duka cita. Sehubungan dengan itu maka diksi yang dipilih penyair untuk membuat puisi berjenis eligi adalah kosa kata yang bernuansa duka cita, kelabu, kelam, kelu, muram durja, nelangsa, nestapa, pilu, dan sedih.
Ada 2 sumber kesedihan yang diungkapkan penyair dalam puisi berjenis eligi ini, yakni rusaknya lingkungan hidup dan punahnya sejumlah kearifan budaya local. Penulis berpendapat itulah tema utama yang diusung RMAF dalam puisinya berjudul NBP ini.
Lingkungan hidup yang rusak itu digambarkan penyair berlokasi di kampung halaman orang Bukit. Lingkungan hidup yang tadinya asri berubah menjadi rusak, dan kearifan budaya local yang tadinya beragam mulai kehilangan fungsinya sebagai identitas suku bangsa yang membanggakan suku Dayak Meratus dan suku Banjar di Kalsel.
Tokoh antogonis yang dituding penyair sebagai oknum pelaku pengrusakan lingkungan hidup dimaksud adalah kau lirik, orang yang dikecamnya sebagai oknum yang telah melakukan pengkhianatan terhadap segenap petuah suci warisan para leluhur mereka. Oknum itu adalah orang yang membabat hutan dengan jurus mabuk dan jurus innocent (kau babat hutan tanpa sadar bertopeng imitasi).
Ungkapan sedih yang berisi ratapan atas kerusakan lingkungan hidup antara lain tergambar secara implicit dalam kutipan teks baris-baris puisi di bawah ini (1) lumut pergi tak berbekas di luruhan daun purun, (2) kau babat hutan tanpa sadar bertopeng imitasi, (3) dan berkhianat pada nisan leluhur, (4) celakalah pencuri jantung bumi paikat, (5) membiarkan teriakan anak Bukit menyahan kindai dunia, (6) sebelum mentari tenggelam dalam pakucuran kedurhakaan, dan (7) berhentilah memburu manis kesturi di biduk rampa.
Sedangkan ungkapan sedih yang berisi ratapan atas punahnya sejumlah kearifan budaya local suku Banjar dan suku Dayak Meratus tergambar secara implicit dalam kutipan teks di bawah ini (1) melupakan balai tempat menganyam lampit masa lalu, (2) betapa miris merasakan hamparan sasirangan terbakar, (3) sedangkan irama japin dan kanjar tak terdengar lagi mengiringi baksa kambang dan radap rahayu, (4) di mana tempat penziarahan anak cucu nanti/bila kita tak tahu bau asap kemenyannya, (5) ke mana kita menanam tonggak ulin/bila kita tak tahu tanah kubur datu kita, (6) bagaimana kita bisa mengenal riwayat ladang kita/bila kita tak tahu wajah para penatah banua.
Berikut ini adalah teks paraphrase puisi NBP menurut versi penulis yang subjektif. Tidak tertutup kemungkinan teks parapharase puisi ini sangat jauh berbeda dengan versi asli yang digagas atau diinginkan oleh penyairnya (RMAF).
Sebagaimana (halnya dengan) mayang dan kambat (yang) ditarikan (orang), (seperti itulah) lumut (sungai) pergi (entah ke mana). (Kepergiannya) tak berbekas (sama sekali). (Hilang lenyap begitu saja). (Sudah dicari) di luruhan daun purun, (namun hasilnya nihil). (Seperti  itulah gambaran tabiat anak-anak suku Dayak Meratus yang pergi begitu saja meninggalkan kampung halaman menuju tanah rantau yang mereka suka).
(Mereka hilang, lenyap begitu saja), (pergi merantau entah ke mana). (Mereka sepertinya telah) melupakan balai tempat (mereka dulu mulai belajar) menganyam lampit (di) masa lalu. Balai merujuk kepada tempat, masa lalu merujuk kepada masa kanak-kanak, dan  menganyam lampit merujuk kepada kegiatan pembinaan mental dan spiritual (pembinaan karakter).
Aspek mental dan spiritual semua anak Dayak Meratus sejatinya dibina sejak dini di balai-balai yang ada di kampung halaman mereka masing-masing. Setelah itu barulah mereka dibolehkan pergi merantau ke berbagai tempat di luar kampung halaman mereka untuk melanjutkan sekolah atau untuk mencari pekerjaan yang layak.
(Sungguh) betapa miris (hati ini melihat dan) merasakan (betapa) hamparan sasirangan (sudah jarang sekali kita lihat). (Budaya local membuat kain sasirangan sudah mulai dilupakan orang). (sehingga kain sasirangan yang adiluhung itu sudah mulai langka), (bahkan dikhawatirkan akhirnya akan punah tak bersisa sama sekali seperti layaknya kain buruk yang) terbakar (atau bahkan sengaja dibakar oleh para pemiliknya).
Dari (arah) muara (mereka melepas) lanting (atau) melepas jukung (tergantung pada apa yang mereka punya). (Setelah itu lanting dan jukung dikayuh melaju) ke (arah) hulu sungai. Muara merujuk kepada tempat-tempat urban yang menjadi tempat tujuan para perantau. Hulu sungai merupakan tempat tinggal idaman semua orang.
Semua orang harus kembali memelihara lingkungan hidup. Semua orang harus kembali menghidupkan kearifan budaya local yang adiluhung. Kembali menanam pinang untuk memperoleh mayangnya, kembali menamam kambat. Kembali menjadikan sungai-sungai sebagai tempat memilirkan lanting, tempat mengayuh perahu, habitat  lumut, dan biota air lainnya seperti sedia kala).
(Para perantau suku Dayak Meratus harus kembali menjadikan padang rawa-rawa sebagai habitat purun, dan biota rawa lainnya. Kembali menghidupkan balai sebagai tempat bermusyawarah dan membina karakter anak cucu secara dini. Kembali menganyam lampit, dan kembali membuat kain sasirangan. Tidak boleh ada lagi seorang pun anak-anak Dayak Meratus yang berani melanggar) garis (batas larangan yang tercantum dalam) petuah (nenek moyang mereka).
(Dalam perjalanan dari) sungai Martapura (menuju) ke Lok Baintan, (terlihat para pedagang buah-buahan dan sayur-sayuran) (saling berlomba) mengayun(kan) kayuh(nya), (kayuh demi kayuh membuat perahu mereka meluncur deras mengikuti arus sungai) menuju (ke) pasar terapung. (Sementara itu di dalam hati mereka terselip) seikat harap (semoga Allah Swt memberi berkah atas segala usaha mereka dalam mencari nafkah).  
(Di sungai yang sama juga terlihat) turis-turis (nusantara berbaur jadi satu dengan turis-turis mancanegara), (mereka mencoba) merekam (jejak-)jejak saka (yang sudah begitu dangkal airnya), dan (juga merekam) konser balian (yang masih tersisa di sana). Sedangkan (di sana-sini) irama japin dan kanjar (sudah nyaris) tak terdengar lagi mengiringi (tarian) baksa kambang dan (tarian) radap rahayu
(Melalui puisi ini izinkan aku bertanya) di mana tempat penziarahan anak cucu nanti, bila kita (sebagai anak cucu) tak tahu (dari mana) bau asap kemenyannya (berasal?). Asap kemenyan merujuk kepada asal-usul semua budaya local yang diwariskan oleh para leluhur, dan tempat penziarahan merujuk kepada tempat untuk menunjukkan rasa hormat anak cucu kepada para leluhurnya. Jadi, marilah kita pulang kembali ke kampung halaman untuk mencari tahu asal-usul jati diri kita (bau asap kemenyan). Supaya kita nantinya menjadi mudah untuk menziarahinya. 
(Lalu), ke mana (pula) kita (sebagai anak cucu harus mencari lokasi yang semestinya untuk) menanam tonggak kayu ulin(?) (Sungguh, kita tak akan bisa melakukan penanaman tonggak ulin itu) bila kita (sebagai anak cucu) tak tahu (di mana) tanah (tempat) kubur datu kita. (Selanjutnya) bagaimana (mungkin) kita bisa mengenal riwayat ladang kita, bila kita (sebagai anak cucu) tak tahu wajah para penatah banua (kita). Tonggak kayu ulin, tanah kubur datu, ladang, dan penatah banua merujuk kepada identitas local anak-anak suku Dayak Meratus.
Indah nian (kudengar) nyanyian (puja-puji bagi) bumi (leluhur kami). (Ketika itu) paikat (masih) bergelantungan (dalam jumlah banyak) di (seantero) langit (negeri) seribu sungai. Deretan duri (paikat ketika itu masih) membalur (dan menjulur) pada (segenap pohon yang tumbuh di) hutan purba (yang masih terjaga keasriannya). Bait IV puisi NBP ini berisi gambaran tentang lingkungan hidup yang ideal menurut persepsi penyair (RMAF)
(Kepermaian bumi paikat juga tergambar) pada ombak laut yang (selalu tenang dan) diam (tak pernah berbuat ulah terhadap anak-anak suku Dayak Meratus) yang berlayar mengarunginya atau mencari nafkah di atasnya). (Masa-masa indah itu terjadi) semasa kita (masih tidur) bapukung (di ayunan), (selagi kita masih berada) dalam (buaian) belas kasih kuitan (ayah dan ibu kita).
(Masa-masa indah di kampung halaman anak-anak suku Dayak Meratus itu mulai terusik ketika) kau babat hutan (larangan) tanpa sadar. (Kami terkecoh oleh ulahmu, wahai manusia) bertopeng imitasi. Dan (kini tanpa ragu kami mengecammu sebagai orang yang telah) berkhianat (ke)pada nisan leluhur.. 
Celakalah (kau), pencuri jantung bumi paikat. (Celakalah, kau yang) membiarkan teriakan (kami)     anak(-anak suku) Bukit (yang kelelahan)  menyahan (beban berat) kindai dunia.
(Awas, jangan salahkan kami, jika kami membuat perhitungan denganmu). (Awas), sebelum mentari tenggelam (ke) dalam pakucuran kedurhakaan (kau harus berhenti melakukan pembabatan hutan di tanah leluhur kami). Berhentilah (kalian) memburu manis kesturi di (wilayah domestic kami, tempat di mana) biduk (kami meluncur mengikuti arus sungai dari hilir ke muara atau sebaliknya melawan arus dari muara ke hilir). (Berhentilah, kalian menjarah kekayaan alam tanah leluhur kami yang tampak di atas tanah atau yang tersembunyi di dalam tanah di samping kiri dan kanan tempat di mana kami membangun) rampa.  (Tanah, air, udara, dan segala kekayaan alam lainnya yang ada di sekeliling tempat kami) berdiri (semuanya, tanpa kecuali, adalah milik kami anak-anak suku Dayak Meratus) (Sungguh aku dan kau sudah saling sepakat) pada semua kenyataan yang sudah (saling) dimengerti.
(Sungguh), aku (sangat) merindu)kan) (tampilnya anak-anak suku Dayak Meratus yang fasih) (me)nyanyi(k)an lagu berjudul Nyanyian Bumi Paikat di belantara huma banuaku (ini).

Lapis Dunia
Lapis dunia merujuk kepada perasaan (feling), dan nada (tone). Perasaan (feeling) merujuk kepada sikap penyair terhadap tema atau pokok pikiran yang dikemukakannya. Nada (tone) merujuk kepada sikap penyair terhadap pembaca puisinya. Pada lapis dunia inilah penyair memaparkan informasi implisit menyangkut pelaku, latar, objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang. Lapis dunia tidak lain adalah realitas yang dilihat dari sudut pandang tertentu.
Lapis dunia puisi NBP menggambarkan sikap pribadi penyairnya yang merasa prihatin dengan semakin rusaknya lingkungan hidup di kampung halaman suku Dayak Meratus, dan semakin banyaknya kearifan budaya local suku Dayak Meratus dan suku Banjar di Kalsel yang terancam kepunahan. Penyair berharap para pembaca puisinya juga mengambil sikap seperti dirinya yakni ikut prihatin dan berusaha ikut serta dalam gerakan revitalisasi lingkungan hidup dan kearifan budaya local suku Dayak Meratus dan suku Banjar di Kalsel.

Lapis Metafisis
Lapis metafisis merujuk kepada pengalaman imajiner (imagery), yakni segala sesuatu yang menjadi bahan kontemplasi (renungan), seperti : sesuatu yang suci, sublim, tragis, mengerikan, dan menakutkan. Menurut Pradopo (1999:15) tidak semua puisi memiliki lapis metafisis.
Lapis metafisis puisi NBP merujuk kepada pengalaman imajiner penyair yang merasa prihatin dengan semakin parahnya kerusakan lingkungan hidup di kampung halaman suku Dayak Meratus dan semakin banyaknya kearifan budaya local suku Dayak Meratus dan suku Banjar di Kalsel yang terancam kepunahan.
---------------------------------------------------------------------

Tajuddin Noor Ganie, M. Pd, Dosen Mata Kuliah Kajian Puisi PBSID STKIP PGRI Banjarmasin. Anggota Dewan Juri Lomba Tulis Puisi Aruh Sastra Kalsel IX Banjarmasin 2012. Kode File : D/Koran/Rezkie Muhammad Al Fajar




  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar