Minggu, 20 Januari 2013

KAJIAN STRATA NORMA PUISI SITI AISYAH BERJUDUL MENYISIR JEJAK LELAKI BELUKAR



KAJIAN STRATA NORMA

PUISI SITI AISYAH BERJUDUL

MENYISIR JEJAK LELAKI BELUKAR

 

Oleh Tajuddin Noor Ganie, M. Pd

 

Siti Aisyah (SA), merupakan pendatang baru di jagat sastra Indonesia di Kalsel. Ia baru dikenal sebagai penulis puisi sejak tahun 2012. Sepanjang yang penulis ketahui namanya baru dikenal setelah ia berhasil mengukir prestasi sebagai Pemenang II katagori peserta umum dalam Lomba Menulis Puisi Aruh Sastra Kalsel IX Banjarmasin 2012 (www.wisata banjarmasin.com, Sabtu, 25 Agustus 2012).
Pada kesempatan ini penulis mengulas puisi SA berjudul Menyisir Jejak Lelaki Belukar (selanjutnya ditulis MJLB). Dengan puisi inilah ia berhasil mengukir prestasinya sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Ulasan dilakukan dengan pendekatan strata norma menurut teori Roman Ingarden.   
Berikut penulis kutipkan puisi dimaksud.

MENYISIR JEJAK LELAKI BELUKAR

I
ia yang mewarisi tabiat melati
sebenarnya hanya ingin berbagi wangi
tapi, tangan-tangan kasar berdaki
semena-mena melemparnya ke belukar penuh duri


II.
berpuluh musim telah ia akrabi belantara
demi bakti pada negeri Ibnu Hajar pun rela
tinggalkan Ambutun dan kehangatan keluarga
tak peduli lapar atau malaria mendera

pada lebat hutan Meratus Angli berkhidmad
merancang strategi menyabung nyali
entah berapa tubuh musuh sudah ia tebah
karena tak sudi bumi Antasari digaruk penjajah

dialah lelaki berdarah pijar
dengan sekujur tubuh bertameng rajah
desing peluru hanyalah angin lalu
dan komandan Hassan Basry tahu pasti itu

tapi, ketika udara baru mengurak mekar
betapa sesak rongga dada Ibnu Hajar
segulung tanya menggasing dalam benak
“kenapa pejuang banua mesti tercampak
sementara KNIL bekas antek Belanda
justru menyemat pangkat dan lencana”

atas nama rakyat yang tertindas
ia bilas kecewa dengan dentum senjata
di liang paramasan mereka bermarkas
menebar onar di tiap kesempatan terbuka

tentara bentukan pusat pun dibuat keblenger
tak berkutik meringkus Ibnu Hajar

maka, setelah lelah mencoba segala taktik
diutuslah Hassan Basry dan Idham Khalid

atas nasihat dan bujuk kedua tetuha banua
Ibnu Hajar pun bersedia berdamai
iming-iming pendidikan militer di tanah jawa
jadi bagian pemanis janji

tapi setiba di Jakarta ia ternyata dijebloskan ke bui
vonis mati tak bisa ditawar-tawar lagi
bahkan sampai detik ini
jasad dan kuburnya diliput kabut misteri

III
sejarah belepotan dusta sarat oleh muslihat
tergoreslah sudah noda jelaga di jidat
predikat gembong garumbulan pun terlanjur melekat
menguntit langkah-langkah sepanjang riwayat

Banjarmasin, 3 Agustus 2012

Catatan
Ambutun = kampong kelahiran Ibnu Hajar
Angli= nama kecil si tokoh legendaris (Ibnu Hajar, pen)
Paramasan = sekarang masuk wilayah Kabupaten Banjar, berbatasan dengan Kabupaten Tanah Bumbu,
Garumbulan = bahasa Banjar, artinya gerombolan pemberontak



Lapis Bunyi
Lapis bunyi merujuk kepada hasil olah kata yang dilakukan penyair. Kosa-kata yang dipilih untuk menghasilkan lapis bunyi adalah kosa-kata yang sesuai dengan pola persajakan yang sudah ada dalam tradisi penulisan puisi modern di tanah air kita, yakni a/a/a/a, a/a/b/b, a/b/a/b, dan a/b/b/a.
Kajian yang dilakukan untuk mendeskripsikan pola-pola formulaic persajakan dalam sebuah puisi disebut kajian bahasa bersajak berirama atau kajian lapis bunyi. Bahasa bersajak berirama identik dengan gaya bahasa perulangan (repitisi), karena unsure pembentuk bahasa bersajak berirama tidak lain adalah gaya bahasa perulangan (repitisi).
Pola persajakan yang diterapkan SA dalam puisinya MJLB merujuk kepada pola-pola sebagai berikut.
1.      Bait 1, a/a/a/a (melati/wangi/berdaki/duri)
2.      Bait 2, a/a/a/a (belantara/rela/keluarga/mendera)
3.      Bait 3, a/b/c/c (berkhidmat/nyali/tebah/penjajah)
4.      Bait 4, a/b/c/c (pijar/rajah/lalu/itu)
5.      Bait 5, a/a/b/b/c/c (mekar/Hajar/benak/tercampak/ Belanda/lencana)
6.      Bait 6, a/b/a/b (tertindas/senjata/bermarkas/terbuka)
7.      Bait 7, a/a/b/c (keblenger/Hajar/taktik/Khalid)
8.      Bait 8, a/b/a/c (banua/berdamai/Jawa/janji)
9.      Bait 9, a/a/a/a (bui/lagi/ini/misteri)
10.  Bait 10. a/a/a/a (muslihat/jidat/melekat/riwayat)

Secara teoretis pola-pola persajakan yang demikian itu akan otomatis menghasilkan lapis bunyi yang disebut sajak vocal (asonansi) dan sajak konsonan (aspiran, kakaponi, dan liquida). Lapis bunyi asonansi pada puisi MJLB ditemukan dalam Bait 1, Bait 2, Bait 4 (lalu/itu), Bait 5 (Belanda/lencana), Bait 6 (senjata/terbuka), Bait 8, dan Bait 9.
Lapis liquida ditemukan pada Bait 2 (mekar/Hajar), dan Bait 7 (keblenger/Hajar). Lapis bunyi aspiran ditemukan pada Bait 3 (konsonan h), dan Bait 6 (konsonan s). Lapis bunyi kakafoni ditemukan pada Bait 5 (konsonan k), dan Bait 10 (konsonan t).

Lapis Arti
 Lapis arti merujuk kepada satuan arti yang terbentuk baik karena pilihan kata-katanya (diksi), maupun karena susunan teks visual kata-katanya (tipografi). Menurut Effendi (1969:3), analisis lapis arti yang dilakukan untuk menjelaskan gaya bahasa sebuah puisi disebut analisis stilistis.
Ada 2 gejala yang dikaji dalam lapis arti puisi, yakni susunan teks visual kata-katannya (tipografi), dan  pilihan kata-katanya (diksi). Tipografi puisi MJLB sangat rapi, terdiri dari 10 bait. Hanya Bait 5 yang menampung 6 baris puisi, sedangkan bait yang lainnya sama-sama menampung 4 baris.4 baris puisi
Pilihan kata (diksi) identik dengan struktur formal linguistik puisi (Semi, 1993:121). Setiap kata mempunyai makna leksikal (makna kamus) yang melekat semula jadi padanya. Makna leksikal yang dilekatkan pada setiap kata adalah makna yang disepakati secara arbiter (mana suka) oleh para pemakai bahasa. Kesepakatan itu kemudian dilegal-formalkan dengan cara memasukannya ke dalam kamus yang diakui negara.
Oleh para penyair yang kreatif, kosa kata tunggal yang mandiri itu dimajemukkan dengan cara digabungkan dengan kosa kata tunggal lainnya, atau dengan kosa kata majemuk yang disukainya. Hasil kimiawi akibat penggabungan kosa kata itu adalah terciptanya makna kata yang baru sebagai pengganti makna kata yang lama. Makna baru dimaksud ada yang disebut makna muatan dan ada pula yang disebut makna ikutan.
Makna muatan identik dengan makna eksplisit (langsung dapat dimengerti tanpa penafsiran sama sekali). Gabungan kata dengan makna eksplisit ini disebut sebagai deretan kata nyata. Sedangkan makna ikutan identik dengan makna implicit (tidak langsung dapat dimengerti maknanya, sehingga pemaknaan terhadapnya harus dilakukan melalui penafsiran subjektif yang beragam, tergantung kompetensi orang yang menafsirkannnya). Gabungan kata dengan makna implicit ini dapat dibedakan menjadi 2, yakni kata-kata berkonotasi citraan (citra gerak, citra penciuman, citra pendengaran, citra penglihatan, citra pencecapan, dan citra perabanan) dan kata-kata berkonotasi kiasan (gaya bahasa perbandingan, pertentangan, dan pertautan).
Lapis arti puisi MJLB di atas dijalin penyairnya (SA) dengan memanfaatkan kosa kata bahasa Indonesia yang bersifat denotatis dan konotatis sesuai dengan kepentingan pemaknaan (lapis satuan arti) yang diinginkannya (makna muatan dan makna ikutan). Di dalam puisi ini juga ditemukan nama tempat (Ambutun, Paramasan), nama kecil (Angli), dan stigma dalam bahasa Banjar (garumbulan). Namun pemakaian nama dan stigma local itu sama sekali tidak membuat puisi ini sulit dimengerti oleh mereka yang tidak melek bahasa Banjar.
Setidak-tidaknya 9 paduan kata unik yang digunakan SA untuk menciptakan makna ikutan, yakni lelaki belukar, tabiat melati, berbagi wangi, tangan-tangan kasar berdaki, berdarah pijar, bertameng rajah, menebar onar, pemanis janji, dan noda jelaga di jidat.
Lelaki belukar merujuk kepada Ibnu Hajar sebagai seorang lelaki yang banyak menghabiskan masa-masa hidupnya dengan bergerilya di semak-semak belukar. Selama hidupnya, Ibnu Hajar memang banyak menghabiskan masa-masa hidupnya sebagai seorang gerilayawan yang berjuang di dalam hutan. Tidak hanya di zaman revolusi fisik 1945-1949 (ketika mendampingi Hassan Basry), tetapi juga di alam kemerdekaan ketika ia memimpin perlawanan bersenjata terhadap pemerintah pusat (1950-1963).   
Melati adalah bunga yang harum baunya. Paduan kata tabiat melati artinya orang yang berperilaku terpuji (harum namanya). Tabiat melati dalam puisi ini merujuk kepada sikap pribadi Ibnu Hajar yang protagonistis, yakni seorang yang terkenal baik hati, ikhlas dalam berjuang, dan orang yang layak dihormati karena mental kepahlawanannya yang tiada terperikan.
Paduan diksi berbagi wangi masih ada hubungannya dengan bunga melati. Penyair menggunakan paduan diksi ini sebagai sarana estetik untuk menggambarkan sikap pribadi Ibnu Hajar yang tak mau menonjol secara individual (pribadi) saja. Ia ingin semua teman seperjuangannya dalam perang kemerdekaan dahulu juga memperoleh kehormatan yang setara dengannya. Tidak didemobilisasi dengan dalih tidak memenuhi syarat kebugaran dan kemampuan professional untuk melanjutkan kariernya tentara di zaman Indonesia merdeka.
Tangan-tangan kasar berdaki merujuk kepada tabiat buruk para tokoh antogonis (pemerintah pusat), yakni para pembuat kebijakan politik demobilasi terhadap para pejuang republic. Mereka yang tidak lolos tes kebugaran harus menerima nasib buruk dikembalikan ke masyarakat. Hanya mereka yang lolos tes kebugaran saja yang diterima dan diberi kesempatan melanjutkan kariernya sebagai anggota TNI yang definitif.
Berdarah pijar merujuk kepada tabiat Ibnu Hajar sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang gagah berani, tak kenal takut melawan musuh-musuhnya yang lebih terlatih secara kemiliteran dan lebih canggih persenjataannya. Musuh yang harus dihadapi Ibnu Hajar dan kawan-kawannnya ketika itu adalah para anggota pasukan militer KNIL. Mereka jauh professional, karena sebelum diterjunkan ke medan perang di seluruh kepulauan nusantara, mereka terlebih dahulu menjalani pelatihan kemiliteran berstandar internasional.
Bertameng rajah merujuk kepada tubuh Ibnu Hajar yang sudah diberi tameng berupa tulisan berhuruf dan berbahasa Arab, sehingga diyakini tubuhnya kebal dari segala tebasan atau tusukan senjata tajam, bahkan tak dapat ditembus peluru musuh. Tameng rajah dibuat dengan cara menuliskan ayat-ayat suci al Qur’an atau doa-doa keselamatan diri. Sarana untuk menuliskannya cuma jari telunjuk dan zat cair yang digunakan bukan tinta, kesumba, atau zat pewarna lainnya, tapi cuma air putih belaka. Hanya saja, orang yang menuliskannya bukanlah orang sembarangan, tapi adalah para ulama yang sangat saleh.
Menebar onar, merujuk kepada perbuatan buruk. Ketika menjadi juri dalam lomba menulis puisi Aruh Sastra Kalsel IX Banjarmasin 2012, penulis sempat mengkritisi penggunaan kata-kata menebar onar ini. Penulis berpendapat kata-kata ini kurang tepat digunakan dalam kaitannya dengan tendensi menempatkan Ibnu Hajar pada posisi sebagai tokoh protagonis dalam puisi ini. Struktur lapis satuan arti yang sudah berhasil dibangun penyair dengan apiknya pada baris-baris sebelumnya langsung berantakan dibuatnya. Menebar onar lebih tepat digunakan untuk tokoh antagonis. Penulis mengusulkan kata-kata menebarkan perlawanan sebagai ganti kata-kata menebar onar.        
Pemanis janji merujuk kepada janji palsu. Pelaku pengucap dan pengingkar janji ini adalah tokoh antogonis yang dalam konteks puisi ini adalah pemerintah pusat. Mula-mula Ibnu Hajar dijanjikan akan diberi pengampunan atas tindakannya mengobarkan perlawanan bersenjata (diberi amnesty), statusnya sebagai anggota TNI akan dipulihkan, dan ia akan disekolahkan ke akademi militer di pulau Jawa. Orang yang diutus untuk menyampaikan janji pemerintah pusat itu adalah Hassan Basry dan Idham Khalid. Ibnu Hajar bersedia memenuhi permintaan pemerintah pusat itu, ia bersedia menghentikan perlawanan bersenjata, dan keluar dari tempatnya bergerilya. Tapi janji tinggal janji, jangankan ditepati malah justru dingkari. Ibnu Hajar dibawa ke Jakarta, diadili di mahkamah militer luar biasa, divonis hukuman mati, dan akhirnya dieksekusi.
Noda jelaga di jidat merujuk kepada stigma yang dilekatkan oleh pemerintah pusat kepada Ibnu Hajar, yakni sebagai pelaku pemberontakan terhadap pemerintah yang sah. Stigma itu terus melekat hingga sekarang ini, sehingga jasa baiknya sebagai pejuang kemerdekaan di masa revolusi fiksi dahulu hilang tanpa bekas.

Lapis Satuan Arti
Lapis satuan arti merujuk kepada tema puisi (sense) dan amanat puisi (intension). Tema merujuk kepada arti atau pokok pikiran yang dikandung dalam puisi. Amanat merujuk kepada tujuan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca melalui puisinya.
Setiap puisi sudah pasti mengandung suatu pokok persoalan (subject matter) yang hendak dikemukakan penyairnya. Setiap puisi pasti diciptakan dengan tujuan tertentu (Situmorang, 1983:12, 16). Tapi, tidak semua puisi dapat diketahui tema dan amanatnya dengan mudah, karena para penyair sendiri pada umumnya sengaja menyembunyikan tema dan tujuan puisinya di balik kosa-kata yang kaya makna (ambiguitas).
Tema dan amanat sebuah puisi dirumuskan berdasarkan hasil analisis atas makna muatan dan makna ikutan yang terkandung di dalam keseluruhan satuan sintaksis yang ada di dalam puisi itu sendiri. Menurut Effendi (1969:3), analisis lapis satuan arti yang dilakukan untuk merumuskan sebuah tema puisi disebut analisis tematis.
Istilah tema berasal dari bahasa Latin yang berarti tempat meletakkan suatu perangkat. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari penciptaan suatu karya sastra (Aminuddin, 1995:91). Jenis-jenis tema dalam puisi setidak-tidak ada 9, yakni (1) Cinta kasih antara sesama manusia, (2) Cinta tanah air, (3) Keadilan social, (4) Kemanusiaan, (5) Kepahlawanan, (6) Kerakyatan, (7) Ketuhanan, (8) Pendidikan budi pekerti, dan (9) tema-tema lainnya
Lapis satuan arti puisi MJLB tidak bisa dipahami dengan mudah oleh para penafsir yang tidak mengetahui apa, siapa, dan bagaimana sosok pribadi Ibnu Hajar. Tema Ibnu Hajar bukanlah tema yang familiar bagi sebagian besar warga negara Republik Indonesia. Tidak terkecuali bagi warga daerah Kalsel, hanya sebagian kecil kecil saja orang-orang yang tinggal di daerah Kalsel yang mengetahui apa, siapa, dan bagaimana sosok pribadi Ibnu Hajar.
Profil Ibnu Hajar biasanya dimuat di berbagai koran terbitan Banjarmasin menjelang diperingatinya Hari Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan pada setiap 17 Mei. Format publikasi profilnya pun cuma berskala kecil, karena publikasi profil yang berskala besar selalu diberikan kepada Brigjen H. Hassan Basry selaku tokoh utama dalam momentum memperingati hari bersejarah tingkat local di Kalsel ini. Buku yang relative cukup banyak memaparkan tentang apa, siapa, dan bagaimana Ibnu Hajar, setahu penulis Cuma buku karangan C van Dijk berjudul Darul Islam Sebuah Pemberontakan (Pustaka Utama Grafiti Jakarta, 1983).
Lapis satuan arti puisi MJLB merujuk kepada kepahlawanan Ibnu Hajar sebagai pejuang kemerdekaan yang sangat berjasa. Namun, jasa kepahlawanannya tidak dicatat sebagaimana mestinya dalam tinta emas sejarah local memperjuangkan tetap tegaknya kemerdekaan Republik Indonesia di Kalsel, sebaliknya yang dicatat dalam Sejarah Nasional Republik Indonesia adalah aksi perlawanan bersenjata yang dilakukannya terhadap pemerintah republic Indonesia.  
Berikut ini adalah teks paraphrase puisi MJLB yang sengaja disajikan di sini supaya para pembaca dapat lebih memahami lapis satuan artinya.
I
Ia (sejatinya adalah sosok pribadi) yang mewarisi tabiat melati. (Melati adalah bunga yang harum baunya). (Ini berarti, Ibnu Hajar adalah sosok pribadiyang berperilaku terpuji. Harum namanya sebagai sosok pribadi yang terkenal baik hati, ikhlas dalam berjuang, dan orang yang layak dihormati karena mental kepahlawanannya yang tiada terperikan).
 Sebenarnya (tak banyak yang diinginkannya). (Ia) hanya (meng)ingin(kan) (dapat) berbagi wangi (dapat berbagi keharuman nama bersama). Tapi, tangan-tangan kasar berdaki (pemerintah pusat), (telah berbuat) semena-mena (terhadapnya). (Ibnu Hanjar yang kecewa) (kemudian memilih sikap) melempar(kan) (diri)nya ke belukar penuh duri. (Di sana ia kobarkan perlawanan bersenjata untuk menuntut keadilan bagi kawan-kawannya seperjuangan yang didemobilisasi dari dinas ketentaraan karena tidak lolos tes kebugaran fisik).
II.
(Telah) berpuluh musim (lamanya ia berjuang menegakkan proklamasi kemerdekaan republic Indonesia di Kalse). Telah (berpuluh musim) ia akrabi belantara (sebagai tempat gerilya melawan pasukan militer pemerintah colonial Belanda)(KNIL). Demi bakti(nya) (ke)pada negeri (yang dicintainya) Ibnu Hajar pun rela (me)ninggalkan (tempat kelahirannya) Ambutun, dan kehangatan (hidup bersama) keluarga(nya) (di kampung halaman yang indah permai). (Ia) tak peduli (jika untuk pengabdiannya kepada negerinya tercinta) (ia harus sanggup menahan) lapar (berkepanjangan) (karena persediaan makanan di tempat perjuangannya yang selalu kurang), (Ia juga tak peduli) atau (lebih tepatnya tidak takut dengan ancaman penyakit) malaria (yang bakal datang) mendera (dirinya di tempat perjuangannya).
Pada (masa revolusi fisik dahulu), (Ibnu Hajar dan kawan-kawan berjuang dan bertahan di balik) (kerimbunan dan ke)lebat(an) hutan (alami di pegunungan) Meratus. (Di sinilah, Ibnu Hajar alias) Angli (giat) berkhidmad. (Di sana, di balik kelebatan pepohonan itu, ia) merancang strategi (agar menang dalam adu)  menyabung nyali (melawan KNIL, pasukan pemerintah colonial Belanda)
Entah (sudah) berapa (ratus) tubuh musuh (yang) sudah (terkapar bersimbah darah) (karena berhasil) ia tebah (dalam pertempuran yang tak kenal sudah). (Ibnu Hajar berbuat begitu) karena tak sudi bumi (warisan Pangeran) Antasari (ini) digaruk (habis kekayaannya alamnya oleh) penjajah (Belanda).
(Ibnu Hajar), dialah lelaki (gagah berani yang) berdarah pijar. (Tak diragukan lagi, Ibnu Hajar adalah seorang pejuang kemerdekaan yang gagah berani, tak kenal takut melawan musuh-musuhnya yang lebih terlatih secara kemiliteran dan lebih canggih persenjataannya. Musuh yang harus dihadapi Ibnu Hajar dan kawan-kawannnya ketika itu adalah para anggota pasukan militer KNIL. Mereka jauh professional, karena sebelum diterjunkan ke medan perang di seluruh kepulauan nusantara, mereka terlebih dahulu menjalani pelatihan kemiliteran berstandar internasional).
Dengan sekujur tubuh bertameng rajah, (maka tubuh Ibnu Hajar dan kawan-kawan seperjuangannya menjadi kebal tak dapat ditembus peluru musuh. Tameng rajah Ibnu Hajar dan para pejuang lainnya dibuat dengan cara menuliskan ayat-ayat suci al Qur’an atau doa-doa keselamatan diri. Sarana untuk menuliskannya cuma jari telunjuk dan zat cair yang digunakan bukan tinta, kesumba, atau zat pewarna lainnya, tapi cuma air putih belaka. Hanya saja, orang yang menuliskannya bukanlah orang sembarangan, tapi adalah para ulama yang sangat saleh). (Begitulah), desing peluru (yang dating menderu-deru dari segala penjuru, baginya tak lebih) hanyalah (seperti) angin lalu (yang datang silih berganti dari segenap penjuru). Dan  (mengenai kesaktian Ibnu Hajar yang demikian itu) komandan Hassan Basry tahu (dengan) pasti (hal) itu.”
Tapi, (apa yang terjadi) ketika udara (merdeka) baru mengurak mekar (di seluruh persada nusantara). (Terjadilah ketidak-adilan itu). (Pemerintah pusat dan para petinggi tentara yang juga berada di pusat, mulai menata organisasi tentara. Tidak semua pejuang bersenjata yang telah berjasa memerdekakan tanah airnya tercinta dari penjajahan pemerintah colonial Belanda, dapat diterima bekerja sebagai tentara Republik Indonesia. Mereka yang tak lolos tes kebugaran harus rela menerima nasib buruk dikembalikan ke masyarakat atau didemobilisasi).
Betapa sesak rongga dada Ibnu Hajar (melihat kenyataan buruk itu). Segulung tanya (terus-menerus) menggasing (di) dalam benak(nya) (yang sensitive). (Ia lantas bertanya:) “Kenapa pejuang banua mesti tercampak?”. (Ibnu Hajar  sangat marah ketika mengetahui bahwa kawan-kawan seperjuangannya yang didemobilasi itu) (pejuang banua) (dihinakan sedemikian rupa dengan stigma sebagai orang-orang yang tidak memenuhi syarat-syarat kebugaran untuk melanjutkan kariernya sebagai tentara professional di zaman Indonesia merdeka. Ironisnya pihak yang menghina mereka itu tidak lain adalah para mantan anggota militer KNIL yang dulu menjadi musuh mereka di berbagai medan pertempuran).
(Sementara itu, mantan anggota militer)  KNIL (tentara), bekas (antek-)antek Belanda (yang mereka perangi dahulu, kini di zaman Indonesia merdeka) justru menyemat pangkat dan lencana? (Sehingga, dengan pangkat dan lencana itu pula, mereka kemudian tampil sebagai atasan mereka di kesatuan tentara yang dibentuk pemerintah republik Indonesia.
(Padahal, dengan posisinya sebagai anggota militer KNIL, mereka dulu adalah para pengkhianat bangsa merintangi segenap usaha anak bangsa untuk memerdekakan tanah air ini). (Tapi, begitu tanah air berhasil dimerdekakan, ironisnya justru merekalah yang mendapatkan pangkat tinggi dan lencana kehormatan di kesatuan tentara. Mereka mestinya harus dihukum mati karena pengkhianatan mereka di masa lalu, bukan malah diberi kehormatan berupa pangkat dan jabatan)..
(Begitulah, dengan dalih demi profesionalisme tentara, para mantan anggota militer KNIL itu dapat dengan mudah menempati posisi-posisi strategis dalam struktur organisasi ketentaraan di negara yang dulu mereka tentang kemerdekaan. Mereka jelas bukanlah pendiri negara ini, namun justru merekalah yang mengambil keuntungan dari terbentuknya negara ini).
(Nasib buruk justru dialami oleh para pejuang republic sejati) (pejuang banua) (yang ikut andil memerdekakan tanah airnya, tapi begitu tanah airnya merdeka, mereka justru tak diberi kesempatan untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai tentara yang depinitif. Mereka tersingkir karena tak memenuhi syarat kebugaran sebagai anggota tentara, sehingga terpaksa menerima nasib buruk didemobilisasi).
(Mestinya, sebagai balasan atas jasa-jasa mereka yang telah berjuang memerdekakan tanah airnya, maka pemerintah republik yang baru terbentuk ketika itu harus mengakomodasikan keinginan mereka untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai prajurit di masa Indonesia merdeka. Semuanya, tanpa kecuali, harus diterima sebagai prajurit TNI yang definitive. Jika mereka terkena demobilisasi karena factor kebugaran tubuh, maka mereka tetap diberi gaji, yakni sebagai pensiunan tentara) (veteran). (Besaran gajinya disesuaikan dengan pangkat yang disandangnya di masa revolusi fisik dahulu).
(Didorong oleh rasa kecewa dan rasa setia kawan dengan nasib buruk kawan-kawannya seperjuangan yang didemobilisasi dengan cara yang sangat menghina). (Ibnu Hajar) atas nama rakyat (Indonesia) yang tertindas (mengobarkan perlawanan bersenjata terhadap pemerintah pusat). Ia (ingin) (mem)bilas (rasa) kecewa dengan dentum(an) senjata. (Ia ajak kawan-kawan seperjuangan yang sepaham dengannya berkumpul mematri kekuatan bersenjata) di liang paramasan. (Di sinilah) mereka ber(juang) (membangun) markas. (Mereka) menebar(kan) (ke)onar(an) di (se)tiap kesempatan (yang ada dan) terbuka.
(Ibnu Hajar dan anak buahnya sangat menguasai lika-liku alam dan topgrafi daerah Kalsel, karena di sinilah mereka dahulu berjuang melawan pemerintah colonial Belanda). (Sementara itu) tentara bentukan (pemerintah) pusat (yang dikirim untuk menumpas gerakan perlawanan yang dikobarkan Ibnu Hajar, tidak menguasai medan tempur di Kalsel). (Akibatnya mereka) pun dibuat keblenger (oleh pasukan perlawanan yang dikomandoi oleh Ibnu Hajar).
(Mereka) tak berkutik (dan selalu gagal) meringkus Ibnu Hajar. Maka, setelah lelah mencoba segala taktik. (Pemerintah pusat lalu mengubah taktiknya). (Demi tujuan menangkap Ibnu Hajar maka dibuatlah perangkap diplomasi yang sama sekali tidak elegan karena dilakukan dengan menghalalkan tipu muslihat). Diutuslah Hassan Basry dan Idham Khalid (untuk membujuk Ibnu Hajar agar bersedia menghentikan perlawanannya terhadap pemerintah pusat dan petinggi tentara yang juga berada di pusat).
(Nah), atas nasihat dan bujuk(an) kedua tetuha banua (yang sangat dihormatinya itu) Ibnu Hajar pun bersedia berdamai. (Ibnu Hajar rupa-rupanya tergiur dengan) iming-iming (kesempatan melanjutkan) pendidikan militer di tanah Jawa. (Itulah iming-iming yang) jadi bagian pemanis janji (perdamaian itu). (Konon, menurut ceritanya Ibnu Hajar ketika itu disambut dengan hangat dalam suasana yang sangat membesarkan hatinya). (Selepas penyambutan yang hangat itu, Ibnu Hajar dibawa ke Jakarta) 
Tapi setiba(nya) di Jakarta (tahulah Ibnu Hajar bahwa ia telah masuk perangkap). (Terbukti, sesampainya di Jakarta) ia ternyata (tidak didaftarkan sebagai calon taruna di sebuah lembaga pendidikan militer sebagaimana yang dijanjikan pemerintah), (tapi justru) dijebloskan ke (dalam) bui. (Bahkan, tidak berselang lama kemudian, Ibnu Hajar dihadapkan ke sidang mahkamah militer luar biasa di Jakarta). (Hakim yang mengadilinya menjatuhkan) vonis mati (untuk Ibnu Hajar). (Vonis mati itu) tak bisa ditawar-tawar(nya) lagi. (Setelah itu, segalanya tentang Ibnu Hajar sudah tidak dapat dilacak lagi). Bahkan sampai detik ini (tidak diketahui bagaimana nasib) jasad(nya) dan (di mana jasadnya itu dimakamkan). (Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya di mana lokasi makamnya). (Hingga kini) kuburnya (masih tetap) diliput kabut misteri.

III
Sejarah (yang) belepotan (dengan) dusta (dan) sarat (dengan atau) oleh muslihat (yang begitu keji itu), (telah menjadikan Ibnu Hajar sebagai korbannya yang paling teraniaya). (Sejarah hidupnya sebagai orang yang kalah, membuatnya tak mampu membela diri). (Sejak, ia dieksekusi atas nama hukum militer, maka sejak itu pula) tergoreslah sudah (stigma) noda jelaga (sebagai pelaku makar). (Stigma itu sudah melekat begitu kuatnya) di jidat (Ibnu Hajar). (Suka tidak suka, mau tidak mau) predikat (sebagai) gembong garumbulan (itu) pun (sudah) terlanjur melekat (begitu erat). (Sehingga, selalu) menguntit (di setiap) langkah-langkah (di) sepanjang riwayat (hidupnya).


Lapis Dunia
Lapis dunia merujuk kepada perasaan (feling), dan nada (tone). Perasaan (feeling) merujuk kepada sikap penyair terhadap tema atau pokok pikiran yang dikemukakannya. Nada (tone) merujuk kepada sikap penyair terhadap pembaca puisinya. Pada lapis dunia inilah penyair memaparkan informasi implisit menyangkut pelaku, latar, objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang. Lapis dunia tidak lain adalah realitas yang dilihat dari sudut pandang tertentu.
Lapis dunia puisi MJLB menggambarkan sikap pribadi penyairnya yang menaruh simpati kepada Ibnu Hajar. Penyair berharap para pembaca puisinya juga mengambil sikap seperti dirinya yakni menaruh simpati kepada nasib buruk Ibnu Hajar.

Lapis Metafisis
Lapis metafisis merujuk kepada pengalaman imajiner (imagery), yakni segala sesuatu yang menjadi bahan kontemplasi (renungan), seperti : sesuatu yang suci, sublim, tragis, mengerikan, dan menakutkan. Menurut Pradopo (1999:15) tidak semua puisi memiliki lapis metafisis.
Lapis metafisis puisi MJLB merujuk kepada pengalaman imajiner penyair yang merasakan bagaimana buruknya negara memperlakukan seorang Ibnu Hajar. Mengingat jasanya yang begitu besar terhadap negara ini, maka negara mestinya merehabilitasi nama baiknya sesuai dengan janji yang dulu diucapkan oleh para utusan yang dulu ditugasi oleh pemerintah pusat untuk membujuk Ibnu Hajar agar menghentikan perlawanannya.
---------------------------------------------------------------------

Tajuddin Noor Ganie, M. Pd, Dosen Mata Kuliah Kajian Puisi PBSID STKIP PGRI Banjarmasin. Anggota Dewan Juri Lomba Tulis Puisi Aruh Sastra Kalsel IX Banjarmasin 2012. Kode File : D/Koran/Siti Aisyah




  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar